Kamis, 24 November 2011

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN TBC

A.      DEFINISI
Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikobakterium tuberkulosa tipe humanus ( jarang oleh tipe M. Bovinus).TB paru merupakan penyakit infeksi penting saluran napas bagian bawah. Basil mikobakterium tuberculosa tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infeksion) sampai alveoli, terjadilah infeksi primer (ghon). Selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). (ilmu penyakit paru, muhammad Amin).
Tb paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi.
B.   ETIOLOGI
Penyebabnya adalah kuman mycobacterium tuberculosa. Sejenis kuman yang berbentuk batang denagn ukuran panjang 1-4 /mm dan tebal 0,3-0,6 /mm. sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat kuman lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan-tahan dalam lemari es).
C.   PROSES PENULARAN
Tuberculosis tergolong airbone disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Setiap kali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Penularan umumnya terjadi didalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam.
D.   ANATOMI FISIOLOGI


E.   PATOFISIOLOGI
Port de’entri kuman microbakterium tuberculosis adalah saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan disaluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus  atau paru-paru atau dibagian atas lobus bawah atau paru-paru tau dibagian bawah atas lobus bawah. Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh denagn sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitolit yang dikelilingi leh fosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 1 sampai 10 hari.

F.   MANIFESTASI KLINIS
·         Batuk disertai dahak lebih dari 3 minggu
·         Sesak napas dan nyeri dada
·         Badan lemah, kurang enak badan
·         Berkeringat pada malam hari walau tanpa kegiatan berat badan menurun  (Penyakit infeksi          TB paru dan ekstra paru, Misnadiarly)

G.   JENIS-JENIS PENYAKIT TBC
Penyakit tuberkulosis ( TBC ) terdiri atas 2 golongan besar,yaitu :
1.    TB paru ( TB pada organ patu-paru )
2.    TB ekstra paru (TB pada organ tubuh selain paru )
a.    Tuberkulosis milier
b.    Tuberkulosis sistem saraf pusat ( TB neningitis )
c.    Tuberkulosis empyem dan Bronchopleural fistula
d.    Tuberkulosis Pericarditis
e.    Tuberkulosis Skelet / Tulang
f.     Tuberkulosis Benitourinary / Saluran Kemih
g.    Tuberkulosis Peritonitis
h.    Tuberkulosis Gastriontestinal (Organ Cerna)
i.     Tuberkulosis Iymphadenitis
j.     Tuberkulosis Catan / Kulit
k.    Tuberkulosis Laringitis
l.     Tuberkulosis Otitis
                                                                                                         
H.   KOMPLIKASI
1.    Pembesaran kelenjar sevikalis yang superfisial
2.    Pleuritis tuberkulosa
3.    Efusi pleura
4.    Tuberkulosa milier
5.    Meningitis tuberkulosa

I.     PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.    Kultur Sputum adalah Mikobakterium Tuberkulosis Positif pada tahap akhir penyakit
2.    Tes Tuberkalin adalah Mantolix test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam)
3.    Poto Thorak adalah Infiltrasi lesi awal pada area paru atas : pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas : pada kavitas bayangan, berupa cincin : pada klasifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi.
4.    Bronchografi adalah untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena Tb paru
5.    Darah adalah peningkatan leukosit dan laju Endap darah (LED)
6.    Spirometri adalah Penurunan fungsi paru dengan kapasitas vital menurun

J.    PENATALAKSANAAN
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu : Fase Intensif (2-3 bulan) dan Fase Lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan adalah Kanamisin, Kulnolon, Makvolide, dan Amoksilin ditambah dengan asam klavulanat, derivat rifampisin / INH.
K.   DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah.    
Kriteria hasil :
·         Mempertahankan jalan nafas pasien
·         Mengeluarkan sekret tanpa bantuan
Intervensi :
·         Kaji fungsi pernapasan contoh : Bunyi nafas, kecepatan, irama,  kedalaman dan   penggunaan otot aksesori
·         Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa / batuk efektif : catat karakter, jumlah sputum, adanya emoptisis
·         Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi. Bantu pasien untuk batuk dan latihan napas dalam
·         Bersihkan sekret dari mulut dan trakea : penghisapan sesuai keperluan
·         Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan
Rasionalisasi :
·         Penurunan bunyi napas dapat menunjukkan atelektasis
·         Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal. Sputum berdarah kental atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronkal dan dapat memerlukan evaluasi
·         Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan
·         Mencegah obstruksi / aspirasi
                       
2.    Pertukaran gas, kerusakan dan resiko.
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan sering batuk atau produksi sputum meningkat.
Kriteria hasil :    
·         BB meningkat
Intervensi :
·         Catat status nutrisi pasien
·         Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai / tidak disukai
·         Berikan makanan sedikit tapi sering
·         Anjurkan keluarga klien untuk membawa makanan dari rumah dan berikan pada klien kecuali kontra indikasi
·         Kolaborasi dengan ahli gizi
Rasionalisasi :
·         Berguna dalam mendefinisikan derajat / luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat
·         Pertimbangan keinginan dapat memperbaiki masukan diet
·         Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan
·         Membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural

3.    Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan tidak akurat dan tidak lengkap informasi yang ada.
Kriteria hasil :                                   
·         Menyatakan pemahaman proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan
Intervensi :
·         Kaji kemampuan pasien untuk belajar
·         Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat
·         Berikan instruksi dan informasi tertulis
·         Anjurkan klien untuk tidak merokok
·         Kaji bagaimana TB ditularkan
Rasionalisasi :
·         Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu
·         Dapat menunjukkan kemajuan atu pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut
·         Infomasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi
·         Meskipun merokok tidak merangsang berulangnya TB tetapi meningkatkan disfungsi pernapasan

4.    Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.         
Kriteria hasil :
·         Menurunkan resiko penyebaran infeksi
Intervensi :
·         Kaji patologi penyakit
·         Identifikasi orang lain yang berisiko
·         Anjurkan pasien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari meludah
·         Kaji tindakan kontrol infeksi
·         Awasi suhu sesuai indikasi
·         Kolaborasi dengan tim medis
Rasionalisasi :
·         Membantu pasien menyadari / menerima perlunya mematuhi program pengobatan
·         Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran / terjadinya infeksi
·         Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien
·         Reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut
·         Membantu mengidentifikasi lembaga yang dapat dihubungi untuk menurunkan penyebaran infeksi

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan.

Kriteria hasil :
 Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat.
Intervensi :
a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya.
b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo.
c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang
adekuat.
d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat.
e. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain.
f. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah.
g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH.
h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol.
i. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan. Jangan menyangkal.
j. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan.
k. Anjurkan untuk berhenti merokok.
l. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi.
Rasionalisasi :
-          Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien.
-          Rasional:Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi secepatnya.
-          Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan membantu mengencerkan dahak.
-          Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien.
-          Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat.
-          Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi
-          Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis
-          Efek samping etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau.
-          Menurunkan kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping.
-          Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus.
-          Merokok tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis; tapi gangguan pernapasan/ bronchitis.
Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses, empisema, pneumotorak, fibrosis, efusi pleura, empierna, bronkiektasis, hernoptisis, u1serasi Gastro, Instestinal (GD, fistula bronkopleural, Tuberkulosis laring, dan pen
LAPORAN PENDAHULUAN
EMFISEMA
A. Pengertian
Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi.(Kus Irianto.2004.216)

Emfisema
 merupakan morfologik didefisiensi sebagai pembesaran abnormal ruang-ruang udara distal dari bronkiolus terminal dengan desruksi dindingnya.(Robbins.1994.253)

Emfisema adalah penyakit obtruktif kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan alveoli.(Corwin.2000.435)

B. Klasifikasi
Terdapat 2 (dua) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru :
1.      Panlobular (panacinar), yaitu terjadi kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Semua ruang udara di dalam lobus sedikit banyak membesar, dengan sedikit penyakit inflamasi. Ciri khasnya yaitu memiliki dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktivitas, dan penurunan berat badan.
                                  
2.      Sentrilobular (sentroacinar), yaitu perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus sekunder, dan perifer dari asinus tetap baik. Seringkali terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi, yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah arteri), polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada sianosis, edema perifer, dan gagal napas.
                                                    
C. Etiologi
Beberapa hal yang dapat menyebabkan emfisema paru yaitu :
1.      Rokok
Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalan nafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus bromkus.

2.      Polusi
Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. Insiden dan angka kematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padat industrialisasi, polusi udara seperti halnya asap tembakau, dapat menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar.

3.      Infeksi
Infeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih berat. Penyakit infeksi saluran nafas seperti pneumonia, bronkiolitis akut dan asma bronkiale, dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema.

4.      Genetik
5.      Paparan Debu

D. Manifestasi Klinis
1.      Dispnea
2.      Pada inspeksi: bentuk dada ‘burrel chest’
3.      Pernapasan dada, pernapasan abnormal tidak efektif, dan penggunaan otot-otot aksesori pernapasan (sternokleidomastoid)
4.      Pada perkusi: hiperesonans dan penurunan fremitus pada seluruh bidang paru.
5.      Pada auskultasi: terdengar bunyi napas dengan krekels, ronki, dan perpanjangan ekspirasi
6.      Anoreksia, penurunan berat badan, dan kelemahan umum
7.      Distensi vena leher selama ekspirasi.


E. Patofisiologi
Emfisema paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolus-alveolus yang tidak dapat pulih, dapat bersifat menyeluruh atau terlokalisasi, mengenai sebagian tau seluruhparu.

Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari obstrusi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pemasukannya. Dalam keadaan demikian terjadi penimbunan udara yang bertambah di sebelah distal dari alveolus.

Pada emfisema terjadi penyempitan saluran nafas, penyempitan ini dapat mengakibatkan obstruksi jalan nafas dan sesak, penyempitan saluran nafas disebabkan oleh berkurangnya elastisitas paru-paru.
F. Komplikasi
1.      Sering mengalami infeksi pada saluran pernafasan
2.      Daya tahan tubuh kurang sempurna
3.      Tingkat kerusakan paru semakin parah
4.      Proses peradangan yang kronis pada saluran nafas
5.      Pneumonia         
6.      Atelaktasis
7.      Pneumothoraks
8.      Meningkatkan resiko gagal nafas pada pasien.

G. Pemeriksaan diagnostik
·         Sinar x dada: dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma).
·         Tes fungsi paru: dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, mis., bronkodilator.
·         TLC: peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma; penurunan emfisema
·         Kapasitas inspirasi: menurun pada emfisema
·         Volume residu: meningkat pada emfisema, bronkitis kronis, dan asma
·         FEV1/FVC: rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada bronkitis dan asma
·         GDA: memperkirakan progresi proses penyakit kronis
h.Bronkogram: dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kollaps bronkial pada ekspirasi kuat (emfisema); pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronkitis
·         JDL dan diferensial: hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eosinofil (asma)
·         Kimia darah: Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema primer
·         Sputum: kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen; pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi
·         EKG: deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat); disritmia atrial (bronkitis), peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF (bronkitis, emfisema); aksis vertikal QRS (emfisema)
·         EKG latihan, tes stres: membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator, perencanaan/evaluasi program latihan.

Sumber : 
http://download-askep.blogspot.com