Kamis, 24 November 2011

Laporan Pendahuluan Bronkhitis Akut

1. Definisi
Bronkhitis akut adalah radang pada bronkhus yang biasanya mengenai trakhea dan laring, sehingga sering dinamai juga dengan laringotracheobronchitis. Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan napas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik misalnya pada morbili, pertusis, ditteri, dan tipus abdominalis.
Istilah teori bronkhitis kronis menunjukkan kelainan pada bronkhus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor, meliputi faktor yang berasal dari luar bronkhus maupun dari bronkhus itu sendiri. Bronkhitis kronis merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus trakheobronkhial yang berlebihan, sehingga menimbulkan batuk yang terjadi paling sedikit selama tiga bulan dalam waktu satu tahun untuk lebih dari dua tahun secara berturut-turut.
Bronkhitis kronis bukanlah merupakan bentuk menahun dari bronkhitis akut. Walaupun demikian, seiring dengan waktu, dapat ditemukan periode akut pada penyakit bronkhitis kronis. Hal tersebut menunjukkan adanya serangan bakteri pada dinding bronkhus yang tidak normal, infeksi sekunder oleh bakteri dapat menimbulkan kerusakan yang lebih banyak sehingga akan memperburuk keadaan.

2. Etiologi
Terdapat tiga jenis penyebab bronkhitis akut, yaitu:
a.       Infeksi: Staphylococcus (stafilokokus), Streptococcus (streptokokus), Pneumococcus   (pneumokokus), Haemophilus influenzae.
b.      Alergi
c.       Rangsangan lingkungan, misal asap pabrik, asap mobil, asap rokok dll
Bronkhitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik pada beberapa alat tubuh, yaitu:
a. Penyakit jantung menahun, yang disebabkan oleh kelainan patologik pada katup maupun miokardia. Kongesti menahun pada dinding bronkhus melemahkan daya tahan sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.
b. Infeksi sinus paranasalis dan rongga mulut, area infeksi merupakan cumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronkhus.
c. Dilatasi bronkhus (bronkInektasi), menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronkhus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.
d. Rokok dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronkhus sehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.



3. Patofisiologi
Serangan bronkhitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronkhitis kronis. Pada umumnya, virus merupakan awal dari serangan bronkhitis akut pada infeksi saluran napas bagian atas. Dokter akan mendiagnosis bronkhitis kronis jika pasien mengalami batuk atau mengalami produksi sputum selama kurang lebih tiga bulan dalam satu tahun atau paling sedikit dalam dua tahun berturut-turut.
Serangan bronkitis disebabkan karena tubuh terpapar agen infeksi maupun non infeksi (terutama rokok). Iritan (zat yang menyebabkan iritasi) akan menyebabkan timbulnya respons inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi, kongesti, edema mukosa, dan bronkospasme. Tidak seperti emfisema, bronkhitis lebih memengaruhi jalan napas kecil dan besar dibandingkan alveoli. Dalam keadaan bronkhitis, aliran udara masih memungkinkan tidak mengalami hambatan.
Pasien dengan bronkhitis kronis akan mengalami:
a. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronkhus besar sehingga meningkatkan produksi mukus.
b. Mukus lebih kental
c. Kerusakan fungsi siliari yang dapat menunjukkan mekanisme pembersihan mukus.

Pada keadaan normal, paru-paru memiliki kemampuan yang disebut mucocilliary defence, yaitu sistem penjagaan paru-paru yang dilakukan oleh mukus dan siliari. Pada pasien dengan bronkhitis akut, sistem mucocilliary defence paru-paru mengalami kerusakan sehingga lebih mudah terserang infeksi. Ketika infeksi timbul, kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia (ukuran membesar dan jumlah bertambah) sehingga produksi mukus akan meningkat. infeksi juga menyebabkan dinding bronkhial meradang, menebal (sering kali sampai dua kali ketebalan normal), dan mengeluarkan mukus kental. Adanya mukus kental dari dinding bronkhial dan mukus yang dihasilkan kelenjar mukus dalam jumlah banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. Bronkhitis kronis mula-mula hanya memengaruhi bronkhus besar, namun lambat laun akan memengaruhi seluruh saluran napas.
Mukus yang kental dan pembesaran bronkhus akan mengobstruksi jalan napas terutama selama ekspirasi. Jalan napas selanjutnya mengalami kolaps dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolus, hipoksia, dan acidosis. Pasien mengalami kekurangan 02, iaringan dan ratio ventilasi perfusi abnormal timbul, di mana terjadi penurunan PO2 Kerusakan ventilasi juga dapat meningkatkan nilai PCO,sehingga pasien terlihat sianosis. Sebagai kompensasi dari hipoksemia, maka terjadi polisitemia (produksi eritrosit berlebihan).
Pada saat penyakit bertambah parah, sering ditemukan produksi sejumlah sputum yang hitam, biasanya karena infeksi pulmonari. Selama infeksi, pasien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi, hipoksemia akan timbul yang akhirnya menuiu penyakit cor pulmonal dan CHF (Congestive Heart Failure).





4. Manifestasi Klinik
a. Penampilan umum: cenderung overweight, sianosis akibat pengaruh sekunder polisitemia, edema (akibat CHF kan an), dan barrel chest.
b. Usia: 45-65 tahun.
c. pengkajian
-batuk persisten, produksi sputum seperti kopi, dispnca dalam beberapa keadaan, variabel wheezing pada saat ekspirasi, serta seringnya infeksi pada sistem respirasi
-gejala biasanya timbul pada waktu yang lama
d.jantung: pembesaran jantung, cor pulmonal, dan hematokrit >60%
e.riwayat merokok positif (+)

5. Manajemen Medis
Pengobatan utama ditujukan untuk mencegah, mengontrol infeksi, dan meningkatkan drainase bronkhial menjadi jernih. Pengobatan yang diberikan adalah sebagai berikut:
a.       Antimicrobial
b.      Postural drainase
c.       Bronchodilator
d.      Aerosolized nebulizer
e.       Surgical intervention






Asuhan Keperawatan Bronkhitis Akut
Asuhan keperawatan pada Tn. T dengan gangguan sistem pernafasan (bronkhitis)
Di ruang Marjan RSUdr. Slamet
A.    Pengkajian                                           
1)      Biodata
a.       Biodata klien
Nama                           :Tn. T
Umur                           :55 tahun
Jenis kelamin               :laki-laki
Alamat                                   :kp. kertajaya
Suku bangsa                :sunda
Agama                         :islam
Pendidikan                  :SD
Pekerjaan                     :buruh
Tgl masuk                    :24/09/2011
Tgl pengkajian :25/09/2011
No.cm                         :0330045
b.         Biodata penanggung jawab
Nama                           :Ny. L
Umur                           :53 tahun
Jenis kelamin               :perempuan
Alamat                                    :kp. kertajaya
Suku bangsa                :sunda
Agama                         :islam
Pendidikan                  :SMP
Pekerjaan                     :ibu rumah tangga
Hubungan dgn klien   :istri

2)         Riwayat kesehatan
a.keluhan utama
Klien mengeluh sering batuk yang disertai dahak.
b.Riwayat kesehatan sekarang
 Klien mengeluh  sering batuk mulai dengan batuk – batuk pagi hari, dan makin lama batuk makin berat, timbul siang hari maupun malam hari, sehingga penderita terganggu tidurnya. Selain itu klien sering menghirup udara yang tidak bersih karena klien bekerja sebagai buruh pabrik.
c.Riwayat kesehatan dahulu
Sebelumnya klien tidak pernah mengalami penyakit bronkhitis, juga penyakit-penyakit sistem pernafasan lainnyaKalaupun klien mengalami batuk, klien menanganinya dengan hanya meminum obat dari warung saja.
d.Riwayat kesehatan keluarga
Menurut penuturan klien diantara anggota keluarganya tidak ada yang pernah mengalami penyakit yang sama dengan klien.

3)         Pemeriksaan fisik
A.keadaan umum
Kesadaran                   : compos mentis
Penampilan umum       : klien tampak lemah
B.     Tanda – tanda vital
T                                  :130/70
P                                  :84x/menit
R                                 :27x/menit
S                                  :36,7 ˚c
C .Integumen
1.Rambut dan kulit kepala
Warna                          :hitam sedikit beruban
Tekstur                        :halus
Penyebaran                  :merata
Kebersihan                  :tidak tampak adanya kotoran
Kerontokan                 :tidak tampak adanya kerontokan
2. Kepala
Bentuk                                    :oval
Kesimetrisan               :simetris antara bahu kiri dan kanan
Keadaan                      :tidak tampak adanya kotoran dan lesi

3.Kulit
Warna                          :sawo matang
tekstur                         :halus
turgor                                                  turgor                          :baik, terbukti saat dicubit turgor dapat kembali dalam 2 detik
kelembaban                 :lembab
4.Kuku
Warna                          :bening
CRT                            :baik, terbukti ditekan sirkulasi kembali dalam waktu 2 detik
Bentuk                                    :cembung
Tekstur                        :halus
Keadaan                      :tidak tampak adanya lesi
Kebersihan                  :tidak tampak adanya kotoran
5.Mata
Kesimetrisan               :simetris antara mata kiri dan kanan
Konjungtiva                :merah muda
Sclera                          :putih kemerahan
Pupil                            :dapat berdilatasi dengan baik saat dirangsang dengan cahaya
fungsi penglihatan       :baik, terbukti klien dapat membaca Koran dengan jarak 30 cm
kebersihan                   :tidak tampak adanya kotoran
pergerakan                   :dapat digerakan ke segala arah dengan baik.
6. Telinga
Kesimetrisan               :simetris antara telinga kiri dan kanan
Tekstur                        :halus
Warna                          :selaras dengan kulit wajah
Kebersihan                  :tidak tampak adanya kotoran
Fungsi pendengaran    :baik, terbukti klien dapat menjawab pertanyaan perawat
7.Hidung
Kesimetrisan               :simetris
Warna                          :selaras
Kebersihan                  :tidak tampak adanya kotoran
Keadaan                      :tidak adanya lesi
Fungsi penciuman         :baik, terbukti klien dapat membedakan bau parfum dengan bau minyak kayu putih

            8.Mulut          
-Bibir
Warna                          :merah muda
Tekstur                        :halus
Stomatitis                    :tidak tampak
Kelembaban                :lembab
Kebersihan                  :tidak tampak adanya kotoran
-Gigi
Warna                          :putih
Jumlah                         :30 buah
Caries                          :tidak tampak adanya caries
Kebersihan                  :tidak tampak adanya kotoran
-Lidah
Warna                          :merah muda
Tekstur                        :halus
Kebersihan                  :tidak tampak adanya kotoran
Kelembaban                :lembab
Fungsi motoris            :dapat digerakan kesegala arah
Fungsi sensoris            :baik,dapat membedakan  rasa manis gula dan pahit obat
9.Leher
Pergerakan                  :dapat digerakan kesegala arah
Kesimetrisan               :simetris
Kelenjar tyroid            :tidak tampak pembesaran
Jvp                               :tidak tampak peninggian
Kgb                             :tidak tampak pembesaran
Kebersihan                  :tidak tampak adanya kotoran
10.Dada
Kesimetrisan               :simetris
Respirasi                      :27x/menit
Bunyi jantung             :reguler
Bunyi paru                  :ronchi
Kebersihan                  :tidak tampak adanya kotoran
11.Abdomen
Bising usus                  :14x/menit
Bentuk permukaan      :datar
Tekstur                        :halus
Keluhan                       :tidak ada keluhan
12.  Genetalia              :tidak terkaji
13.  Ekstremitas
-Atas
tangan kiri terpasang infus 15 tetes/ menit dan tangan kanan bebas digerakan kesemua arah
-Bawah 
kaki kiri dan kanan klien dapat digerakan kesegala arah tetapi masih lemah

4)      Pola Aktivitas Sehari – hari
no
Jenis aktivitas
Sebelum sakit
Saat sakit
1
Pola nutrisi
a. -Makan
Frekuensi
Jenis
Porsi
Cara
b. -Minum
Frekuensi
Jenis
Jumlah
cara


3x/hari
Nasi, lauk pauk, sayuran
1 porsi
Mandiri

7-8 gelas/hari
Air putih dan teh
1700-2000 cc
Mandiri


3x/hari
Bubur nasi
½ porsi
mandiri

5-6 gelas
Air putih
1500-1700 cc
mandiri
2
Pola eliminasi
a. -BAB
Frekuensi
Warna
Konsistensi
Bau
Cara
b. -BAK
Frekuensi
Warna
Bau
Cara


1x/hari
Kuning kecoklatan
½ padat
Khas feces
Mandiri

5-6 x/ menit
Kuning
Khas amoniak
mandiri


1x/hari
Kuning kecoklatan
½ padat
Khas feces
Mandiri

4-5x/menit
Kuning
Khas amoniak
mandiri
3
Pola istirahat tidur
a. -Tidur siang
Lama
Kualitas
b.--Tidur malam
Lama
Kualitas


2-3 jam/hari
Nyenyak

7-8 jam/hari
nyenyak


1 jam/hari
Kurang nyenyak

4-5 jam/hari
Kurang nyenyak
4
Personal hygiene
a.   Mandi
b.   Gosok gigi
c.   Ganti pakaian
d.   Cara

2x/hari
2x/hari
2x/hari
mandiri

1x/hari
1x/hari
1x/hari
dibantu

5)      data psikologis, sosial dan spiritual
a.       Data psikologi
klien tampak murung dan cemas dengan keadaanya, klien selalu menanyakan tentang keadaannya, serta mengatakan takut penyakitnya tidak bisa sembuh.
b.      Data sosial
Klien dapat bersosialisasi dengan  baik dengan tim kesehatan dan perawat,klien selalu menjawab pertanyaan yang diutarakan oleh perawat dan tim kesehatan lain dan dapat diajak kerja sama dalam hal pengobatan. Selain itu klien dapat berhubungan baik dengan keluarganya dan kerabatnya, terbukti dengan adanya anggota keluarga dan kerabat  yang datang menjenguk.
c.       Data spiritual
Klien beragama islam, klien selalu menjalankan ibadah shalat 5 waktu dan selalu berdo’a untuk kesembuhanya, perawat memberikan dorongan spiritual kepada klien bahwa sakit yang klien rasakan merupakan ujian dari Allah, dan akhirnya klien sadar bahwa apa yang sedang menimpa dirinya merupakan ujian dari Allah SWT.


6)      Data penunjang
a.       Terapi
-          Infus RL                                  :15 tts/menit
-          Pemberian oksigenasi               :2.7 l/menit                 
-          Cefotaxime                              :2x1 ampul
-          Amikasin                                  :2x1 ampul
b.      Data lab
No
Jenis pemeriksaan
Hasil
Normal
1
Hemoglobin
22 gr/dl
L=14-18 p=12-16 gr/dl
2
Hematokrit
52 %
L=40-50 p=34-45 %

B.     Analisa data
no
Symptom
Etiologi
Problem
1
DS: klien mengeluh sering batu – batuk disertai dahak
DO: klien terlihat batuk – batuk
Adanya peningkatan sekresi mukosa-> sekresi terakumulasi di jalan nafas -> mukus adalah media yang cocok untuk perkembangan bakteri
Potensial terjadinya infeksi
2
DS: klien mengeluh sesak nafas
DO: klien tampak lemas, respirasi 27x/menit, 
Batuk menetap dengan sputum -> bunyi nafas tidak normal->kecepatan nafas tidak normal -> kecepatan dalam bernafas -> sulit bernafas
Bersihan jalan nafas tidak efektif
3
DS:klien mengeluh susah tidur
DO:sklera terlihat putih kemerahan, konjungtiva pucat,klien tidur siang hanya 1 jam kurang,tidur malam hanya 5-6 jam
Sering batuk-batuk serta nafas sesak->lingkungan tidak kondusif->klien terjaga dari tidurnya
Gangguan pola istirahat tidur
4
DS:klien sering bertanya tentang keadaan penyakitnya
Klien sering mengatakan ingin cepat pulang.
DO:klien tampak cemas dengan pernapasan 27x/menit
Ketidaktahuan tentang keadaan penyakitnya->stressor->kekhawatiran atas keadaan lukanya->anxietas
Gangguan rasa aman cemas

C.     Diagnosa Keperawatan
1. Potensial terjadinya infeksi,yang di tandai dengan:
DS       :klien mengeluh sering batuk – batuk disertai dahak.
DO      :klien terlihat batuk – batuk.
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif
DS       :klien mengeluh sesak nafas
DO      :klien tampak lemas, respirasi 27x/menit
3. Gangguan pola istirahat tidur,yang ditandai dengan:
DS       :klien mengeluh susah tidur
DO      :sklera terlihat putih kemerahan, konjungtiva pucat,klien tidur siang hanya 1 jam kurang,tidur malam hanya 5-6 jam
4. Gangguan rasa aman cemas
DS       :klien sering bertanya tentang keadaan penyakitnya
- Klien sering mengatakan ingin cepat pulang.
DO      :klien tampak cemas dengan pernapasan 27x/menit

NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
PERENCANAAN
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONALISASI
1
Potensial terjadinya infeksi,sehubungan dengan adanya peningkatan sekresi mukosa,ditandai dengan:
DS: klien mengeluh sering batuk – batuk disertai dahak.
 DO: klien terlihat batuk – batuk

batuk-batuk yang disertai dahak yang dapat menimbulkan infeksi dapat teratasi dengan kriteria:
-batuk berkurang
-Atur posisi klien senyaman mungkin


-melakukan tehnik batuk efektif


-bersihkan secret dari mulut dan trakhea
-dengan posisi semi powler memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan
-dengan melakukan batuk efektif klien dapat mengeluarkan secret secara maksimal
-dapat mencegah obstruksi atau aspirasi
2
Bersihan jalan nafas tidak efektif,ditandai dengan:          
DS: klien mengeluh sesak nafas
DO: klien tampaklemas, respirasi 27x/menit

-kebutuhan oksigenasidapat terpenuhi sesuai kebutuhan dalam satu hari dengan kriteria:
-klien dapat bernafas lega
-Berikan klien posisi semi atau powler tinggi

-bantu klien latihan nafas dalam
-posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan
-latihan nafas dalam dapat membantu klien bernafas lega
3
Gangguan pola istirahat tidur,sehubungan dengan adanya batuk,dan lingkungan tidak mendukung ditandai dengan:
DS:klien mengeluh susah tidur
 DO:sklera terlihat putih kemerahan, konjungtiva pucat,klien , tidur malam hanya 5-6 jam           
Gangguan istirahat tidur dapat teratasi dengankriteria:
-klien dapat tidur nyenyak
Frekuensi tidur malam 7-8 jam
-sklera putih
-konjungtiva kemerahan
-klien tampak segar
-rapihkan tempat tidur klien
-ciptakan suasana yang nyaman dan tenang

-batasi jumlah pengunjung maksimum 2 orang
-tempat tidur yang rapih akan membuat klien tidur nyenyak
-lingkungan yang nyaman dan tenang dapat memudahkan dan merangsang klien untuk tidur
-pengunjung yang sedikit akan menghindarkan klien dari bising,sehingga dapat tidur dengan nyenyak
4
Gangguan rasa aman cemas,sehubungan dengan ketakutan klien terhadap penyakitnya yang ditandai dengan:
DS:klien sering bertanya tentang keadaan penyakitnya
Klien sering mengatakan ingin cepat pulang.
DO:klien tampak cemas dengan pernapasan 27x/menit
Gangguan rasa aman cemas dapat teratasi dengankriteria:
-klien mengerti akan penyakit yang dideritanya
-klien tampak tenang dengan pernapasan 18x/menit
-berikan penjelasan penyakit yang diderita klien
-klien dapat memahami penyakit yang di deritanya
-dapat meningkatkan ketenangan klien untuk melakukanpengobatan sampai sembuh

Pertanyaan
1.      Apa yang dimaksud dengan penyakit bronkhitis akut?
2.      Apa penyebab penyakit bronkhitis akut?
3.      Gejala yang ditimbulkan dari penyakit bronkhitis akut?
4.      Pengobatan apa yang dapat dilakukan pada penderita bronkhitis akut?
5.      Apakah setiap orang yang terkena bronkhitis akut akan demam?


Referensi :
1.Smeltzer, Suzanne C, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, ; alih bahasa, Agung Waluyo; editor Monica Ester, Edisi 8, EGC; Jakarta.
2.Carolin, Elizabeth J, Buku Saku Patofisiologi, EGC, Jakarta, 2002.
3.Doenges, Marilynn E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ; alih bahasa, I Made Kariasa ; editor, Monica Ester, Edisi 3, EGC ; Jakarta.
4.Tucker, Susan Martin, 1998, Standar Perawatan Pasien; Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, Edisi 5, EGC, Jakarta.
5.Soeparman, Sarwono Waspadji, 1998, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Penerbit FKUI, Jakarta.
6.Long, Barbara C, 1998, Perawatan Medikal Bedah, 1998, EGC, Jakarta.
7.PRICE, Sylvia Anderson, 1994, Patofisiologi; Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit, EGC, Jakarta.
8.Keliat, Budi Anna, Proses Keperawatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar